Google
 

Tuesday, April 22, 2008

Hari Bumi - Awalilah dengan pemahaman!

Planet BumiHari Bumi (Earth Day) tahun ini mestinya menjadi hari yang istimewa bagi kita orang-orang Indonesia. Konferensi tingkat dunia mengenai perubahan iklim (climate change) yang digelar di Bali Desember 2007 lalu semestinya menjadi pemicu semangat untuk lebih serius memperhatikan lingkungan tempat kita hidup.

Peringatan Hari Bumi sebagai sebuah gerakan bisa menjadi unpowerful bila tidak melibatkan sebanyak mungkin lapisan masyarakat dunia ini, tanpa kecuali. Selama kita masih mendiami planet ini, makan dan minum dari tanah dan air pertiwi ini, selama itulah kita mesti bertanggung jawab atas setiap perilaku yang berdampak padanya. Bukan besar atau kecilnya dampak perilaku itu, tetapi baik atau buruknya dampak perilaku kitalah yang patut diperhatikan. Besar-kecil adalah ukuran kuantitatif, sementara baik-buruk adalah ukuran kualitatif. Meskipun keduanya sama-sama penting, namun seringkali hal-hal menyangkut kualitas perilaku manusia kadangkala terabaikan. Apalagi ini jelas-jelas sebuah gerakan moral-etika terhadap ekosistem bumi (ekoetika) yang cakupannya begitu luas dan menyangkut rentang waktu yang tidak serta-merta. Tantangannya pun jelas: arogansi egoisme kita serta pola gaya hidup kita yang semakin konsumtif dan semakin dipacu oleh keinginan instan.

Sebagai sebuah gerakan moral perayaan Hari Bumi sebetulnya ingin memencet "tombol kehendak" dalam diri setiap orang. Kehendak atau keinginan akan menelorkan tindakan, dan tindakan akan membentuk perilaku yang berpola, dan akhirnya menjadi budaya. Selama seseorang tidak menghendaki sesuatu, tidak akan pernah ada tindakan sengaja dari dirinya untuk mewujudkan sesuatu itu, apalagi dengan tindakan yang terarah dan terencana.

Banyaknya iming-iming tentang gaya hidup hedonis, konsumtif dan instan sungguh menempatkan cara hidup ramah lingkungan yang penuh dengan askese sebagai pilihan yang tidak populer. Demikian pula sering sifat agresif kita terpancing: "Kalau tetangga kontrakanku saja boros memakai listrik, ngapain aku tidak melakukan hal yang sama? Kan adil!" Dalam skala internasional celetukannya bisa seperti ini, "Kalau negara-negara kaya saja dengan seenaknya membuang karbon ke atmosfir kita, ngapain kita negara-negara miskin harus menahan diri bahkan mengurangi emisi karbon dan tidak boleh menebang hutan kita sendiri? Nggak fair dong!" Tidak mengherankan bahwa gerakan etika lingkungan memasuki ruang percaturan politis para pemimpin dunia. Apalagi yang dibicarakan kalau bukan soal sharing tanggung jawab dan keadilan!

"Think globally, act locally" adalah salah satu slogan yang sering dihembuskan untuk mengajak masyarakat kita untuk memahami lebih dalam tentang dampak perilaku kita terhadap lingkungan global. Tidak peduli kita ini berada di sudud bumi yang mana, riak pengaruh perilaku kita akan sampai ke sisi lain planet ini. Dan memang, faktor pemahaman adalah dapur di belakang kehendak yang ingin dikondisikan oleh gerakan Hari Bumi ini. Pemahaman yang komprehensif mengenai lingkungan hidup diharapkan bisa membuka kesadaran kita akan dampak setiap perilaku kita bagi kelestarian bumi ini. Maka mari kita mulai mendidik perilaku kita sendiri, dimulai dengan memahami secara benar dampak-dampak yang mungkin ditimbulkannya sampai ke ujung dunia sana.

Exploring this planet earth is a fun!Siapa menjamin kelangsungan hidup generasi berikut di bumi ini? Pahamilah bahwa Tuhan mempercayakan bumi ini kepada kita, dan itu berarti kitalah yang paling bertanggung jawab atas nasib setiap generasi di planet bumi ini. [skd]

Thursday, April 17, 2008

Senyum dong, Sayang ...

"Nah... begitu dong, Jeng, senyum... Kan jadi beda itu wajah. Tambah manis gitu lhoooh...!" rayuku suatu ketika kepada istriku.

Waktu itu aku baru pulang kerja. Memang sih, aku terlambat, jam 20.00 WIB baru sampai rumah! Memang keterlaluan ya?! Kayak lupa kalau sudah punya istri yang menunggu di rumah dengan harap-harap cemas. Sadar kalau telad sampai rumah, aku sudah menduga kalau di wajah istriku sudah pasti tumbuh sungut, melengkapi jerawat yang sudah lama ngendon di sana (Eh, ndak boleh yaaaa... njelek-njelekin istri sendiri! Bagaimanapun dia tetep cuantik, apalagi kalau pas lagi marahan. Byuh... cantiknya sampai ga karuan! Hehehe...). Yang jelas aku harus minta maaf. Ndak salah kan, suami minta maaf?

"Sorry ya, Jeng, aku telad pulang. Pliiiisssss...!" pintaku disertai mimik memelas, tapi sambil senyum (hehehe... bisa mbayangin ga, memelas sambil senyum?).

Tapi betul, aku lebih suka milih senyum di saat-saat seperti itu. Paling tidak senyum pada diri sendiri. Karena aku yakin, dengan begitu secara mental pun diri ini sudah terseting oke duluan. Dan rasanya energi yang kulepaskan pun terasa lebih ringan daripada cemberut bersungut-sungut. Belum pernah sih aku menimbang bobot sungut, tapi jelas, seseknya sampai ke dada. Mental pun jadi apes duluan!

Aku pernah mengikuti sebuah pelatihan salesmanship singkat, sekitar tiga tahun lalu. Ternyata, modal awal yang paling menentukan kesuksesan seorang salesman bukanlah uang atau hal-hal yang muluk-muluk. Cukup pembawaan diri dan bersikap semanak (Jw.), bahasa londonya mungkin hospitality. Sebelum "menaklukkan" customer, terlebih dahulu seorang salesman harus bisa menaklukkan diri sendiri. Dalam kondisi sedih atau gembira, baru banyak utang atau saku sedang tebal, tak peduli! Seorang salesman harus menampilkan diri dalam kegembiraan. Lha, trus piye kalau kenyataannya tidak begitu gembira?! Apalagi kalau calon customernya galak!

"Pause!" begitu trainerku menyela bayangan-bayangan buruk yang sudah berderet di ubun-ubun ini.

"Anda harus memencet tombol 'pause' atau bahkan tombol 'stop' di kening ini! Hentikan 'self-talk' yang buruk itu! Sekarang Anda saya ajak untuk berlatih bagaimana caranya mengendalikan perasaan dengan gesture kita! Percaya nggak, kalau mental tan tubuh kita ini sebenarnya saling pengaruh-mempengaruhi? Kalau biasanya tubuh kita ini membahasakan mental kita, jadi tubuh dikendalikan oleh mental, sekarang coba dibalik: mental kita membahasakan tubuh ini! Bisa nggak?!"

"Piye kuwi?!"
"Lha, latihannya begini: Coba menghadap cermin. Kemudian senyumlah. Namun, bersamaan dengan itu pikirkanlah hal-hal sedih! Bisa?!"
Semua peserta mencobanya, meskipun tak ada yang bawa cermin. Aku juga. Sumprit! Gak bisa!

"Hehehe... Sekarang dibalik, buatlah kening wajahmu berkerut, tapi sekaligus bayangkanlah hal-hal terlucu yang pernah Anda alami! Bisa?!"

Lha mbok sampai kram, Pak! Mustahil!
"Sekarang, senyumlah dan sekaligus bayangkanlah hal-hal yang menyenangkan!"
Naaaah... yang ini nih!

Begitu. Sore itu bahan training yang pernah aku dapatkan itu aku praktekkan. Istriku sih agak jual mahal waktu aku rayu. Tapi, sekurang-kurangnya itu sungut yang di jidat jadi pudar... ***



© 2007 - sukandar_ag
You can use any posted subjects of this blog for any purposes with permission. Feel free to contact me by e-mail:
sukandar_ag@yahoo.com.